Menjelang Maghrib itu aku terima sebuah pesan singkat..
pesan dari seseorang yang sudah lima tahun lebih aku tidak bertemu dengannya..
pesan yang membuat aku sangat tersentak..
“AKU AKAN MENIKAH”.. itu isi pesannya..
Hampir saja handphone yang aku pegang terjatuh dari genggamanku.
Sesak nafasku dan seakan degup jantung ini sudah berhenti.
Mimpikah ini..???
Kuulangi kembali membaca pesan singkat itu..
dan tak terasa air mata ini menetes..
Tuhan, lima tahun aku tidak mendengar kabar darinya.
Dan sekarang aku menerima pesan seperti ini..
hhhh…ku coba kuatkan hatiku untuk membalas pesan itu..
“Syukurlah, dengan siapa? kapan?” itu isi pesanku.
Lama aku tunggu balasan dari pesanku.
Tapi balasan itu tak kunjung tiba.
Sesaat kemudian kudengar takbir dari Mesjid di samping rumahku.
Hmmm.. sudah biarkan saja pesan itu tidak dia balas.
Ini waktuku untuk berdua dengan Pemilik Aku, dan aku akan ceritakan semua ini padaNYA..
Pukul 23.00 WIB
Aku masih melihat handphoneku, apakah balasan dari pesanku itu sudah ada atau belum.
dan ternyata masih juga belum ada.
Di depan meja belajarku, aku terpaku pada sebuah album foto.
Aku ambil dan aku buka lembar per lembarnya.
Album foto yang sudah lama tak pernah aku sentuh sejak lima tahun yang lalu.
Hingga pada satu foto yang membuatku bergetar membukanya.
Foto ini, foto lima tahun yang lalu, ketika aku bertemu dan kemudian berpisah..
Sebuah pertemuan sekaligus sebuah perpisahan.
Kuambil foto itu dan kulihat tulisan dibelakang foto itu.
Kutai Kartanegara, 16 September 2004
“Aku paling benci dengan perpisahan,
dan kita disini dipertemukan dan dipisahkan
Tapi aku yakin dan percaya kita pasti akan bertemu.
Mungkin melalui foto ini kita akan selalu mengingat setiap detik kenangan yang kita lalui.
karena kenangan akan melahirkan kita berulang-ulang”
-Rahmanda Kurniawan-
Pertemuan yang sungguh singkat, namun berkesan.
Teringat aku pada lima tahun yang lalu.
Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di Tanah Borneo.
Saat itu aku diajak Omku untuk berlibur ke Samarinda.
Karena Omku saat itu mendapatkan tugas disana.
Di kantornyalah aku bertemu dan berkenalan dengan Rahmanda, namun aku senang memanggil namanya dengan panggilan Mas Aar.
Rahmanda, adalah seorang sarjana lulusan dari Institut terkemuka di Bandung.
Aku tahu track recordnya dari Om ku, karena dia termasuk ke dalam bagian Project yang dikerjakan oleh Omku.
“Dira, kamu sudah kenalan dengan Wawan?”, tanya Omku suatu hari padaku.
“Wawan? siapa Om?” jawabku.
“Itu lho, yang di bagian Plan Project, Rahmanda Kurniawan”, jawab Omku.
“Oooh, Mas Aar tho?, kirain siapa Om. Sudah Om. Pinter yah orangnya..”, sahutku
“Dia cerdas dan cumlaude lho Dira, makanya Om ajak dia buat masuk ke tim Project ini”, balas Omku.
“Kamu harus banyak belajar dari dia, buat tambahan ilmu kamu, kalau kamu masuk kuliah nanti” sambungnya.
“Iya, Om..” balasku.
Ternyata, liburanku kali ini bukan hanya sekedar liburan.
Tapi aku ikut dilibatkan pula dalam proyek yang dikerjakan oleh Omku.
Aku mendapat bagian di dalam kegiatan Community Development (Pemberdayaan Masyarakat).
Dan tentunya aku akan sering berinteraksi dengan Rahmanda, karena tugas Rahmanda adalah untuk membuat rencana proyek dari semua aspek.
Hingga pada suatu hari.
“Assalamu’alaikum Dira. Selamat Pagi. Bagaimana jadi ikut ke L3?” sapa Rahmanda di pagi itu.
L3 adalah nama sebuah desa di Kecamatan Embalut, sebutan itu sudah ada sejak adanya program transmigrasi disana.
“Wa’alaikumussalam Mas Aar, insyaAlloh. saya ikut, karena kemarin saya ditelpon kepala desanya untuk hadir dipertemuan itu. Mas Aar ikut juga kah?” balasku.
“iya, tentu saja Dira. Mas Edy shubuh tadi menelponku untuk menemanimu”. ujar Rahmanda.
Edy adalah nama Omku adik bungsu dari ibuku.
“Jadi jam berapa kita berangkat?” tanyanya padaku.
“Jam 8 saja Mas, pertemuannya kan jam 9 di Balai Desa” balasku.
“Ya sudah, saya pulang dulu ke mess, sekalian ambil mobilnya” balasnya.
Sudah hampir tiga minggu aku bersamanya.
Dari mulai pagi hingga larut malam.
Karena proyek yang Om ku kerjakan harus selesai dalam waktu 2 bulan.
Sehingga semua pekerjaan harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.
Aku mulai hafal dengan sifat dan karakter Rahmanda.
Aku mulai hafal dengan suaranya, hafal dengan gaya bicaranya yang santun.
Terlihat sekali bahwa Rahmanda adalah sosok yang cerdas dan berkepribadian yang baik.
Aku juga mulai hafal dengan apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai.
Dari mulai warna, makanan., lagu hingga buku.
Rahmanda, berbeda empat tahun denganku..
Aku baru masuk kuliah, dan dia sudah lulus kuliah.
Satu minggu menjelang kepulanganku ke Jakarta.
“Dira, kapan Dira pulang ke Jakarta?
“Sabtu depan Mas, insyaAlloh”
“Cepat ya, kenapa tidak sampai selesai proyek saja Dira”
“Aku kan masuk kuliah Mas, mau ospek pula.. hehehe”
“Oh iyaya.. “ sahutnya singkat.
Kamis, 16 September 2004. Pukul 17.35 WITA.
Tok..tok..
Aku mengetuk pintu mess Rahmanda.
“Assalamu’alaikum” sapaku
“Wa’alaikumsalam, ada apa Dira?” balasnya
“Mas Aar, Dira pamit dulu yah. Dira mau pulang ke Jakarta” ujarku.
“Lho, kan pulangnya Sabtu besok?” tanyanya.
“Iya Mas, Dira mau ke Balikpapan malam ini barengan sama Om Edy.
Dira nginep di guest house disana.” jawabku
“Hmm.. hati-hati ya Dira” pesannya padaku.
“Terimakasih Mas” sahutku.
“eh, tunggu dulu sebentar” sergahnya.
“Ini buat Dira” ujarnya sambil menyerahkan amplop cokelat.
“Apa ini Mas?, tanyaku.
“Foto kita waktu di L3, kemarin. Simpan ya, buat kenang-kenangan”
“Makasih Mas”
meninggalkan jejak kenangan di gerbang dayaku..
Ketika selangkah ku pergi..
Satu pesan yg kuterima..
“aku paling benci perpisahan”..
Kemudian kulihat sosok bayangan menunduk diantara remang cahaya kutai kartanegara..
Aku melihat Rahmanda tertunduk di bawah bayang senja.
Entah apa yang ia pikirkan saat itu..
Samakah dengan apa yang aku pikirkan tentang perpisahan ini.
Samakah dengan apa yang kurasakan saat ini.
Satu bulan kemudian, proyek telah selesai.
Dan Om Edy sudah berpindah tugas lagi.
Rahmanda pun aku dengar pindah ke Sulawesi.
Aah, semakin jauh saja.
Hingga lima tahun aku sudah tidak pernah dengar lagi kabarnya.
Aku sibuk dengan perkuliahanku, dengan praktikum yang menggila.
Dan dengan begitu banyak kegiatan di kampusku.
Mungkin itu salah satu caraku untuk melupakan Rahmanda.
16 September 2009. Pukul 02.00 WIB
Suara handphoneku berbunyi. Membuyarkan konsentrasi bacaanku.
Sebuah balasan dari pesan singkat yang aku kirim tadi..
“Perempuan yang akan aku nikahi adalah ARDIRA PRAMESWARI,
Dan aku akan menikahinya pada tanggal 20 Desember 2012.
Tepat di hari ulang tahunnya”.
Sayup-sayup terdengar suara yang membuatku kembali bersyukur.
Tuhan, engkau telah merencanakan segalaNya untukku.
Dan aku tahu itu pasti yang terbaik bagiku.
————-
“..lima tahun… bukan waktu yang singkat…”
dan suara itu masih jelas terdengar..
bahkan hingga malam ini..
dan setia itu mungkin sebuah cerita…
masih ada perjalanan yang harus aku tempuh..
-Biru, 19 September 2009-
Bangkiray Canopy Bridge – Samarinda
