..di bawah bayang senja..

Posted in Uncategorized on March 21, 2011 by pendaranhati

Menjelang Maghrib itu aku terima sebuah pesan singkat..
pesan dari seseorang yang sudah lima tahun lebih aku tidak bertemu dengannya..

pesan yang membuat aku sangat tersentak..
“AKU AKAN MENIKAH”.. itu isi pesannya..

Hampir saja handphone yang aku pegang terjatuh dari genggamanku.
Sesak nafasku dan seakan degup jantung ini sudah berhenti.
Mimpikah ini..???

Kuulangi kembali membaca pesan singkat itu..
dan tak terasa air mata ini menetes..

Tuhan, lima tahun aku tidak mendengar kabar darinya.
Dan sekarang aku menerima pesan seperti ini..

hhhh…ku coba kuatkan hatiku untuk membalas pesan itu..
“Syukurlah, dengan siapa? kapan?” itu isi pesanku.

Lama aku tunggu balasan dari pesanku.
Tapi balasan itu tak kunjung tiba.

Sesaat kemudian kudengar takbir dari Mesjid di samping rumahku.
Hmmm.. sudah biarkan saja pesan itu tidak dia balas.
Ini waktuku untuk berdua dengan Pemilik Aku, dan aku akan ceritakan semua ini padaNYA..

Pukul 23.00 WIB
Aku masih melihat handphoneku, apakah balasan dari pesanku itu sudah ada atau belum.
dan ternyata masih juga belum ada.

Di depan meja belajarku, aku terpaku pada sebuah album foto.
Aku ambil dan aku buka lembar per lembarnya.
Album foto yang sudah lama tak pernah aku sentuh sejak lima tahun yang lalu.

Hingga pada satu foto yang membuatku bergetar membukanya.
Foto ini, foto lima tahun yang lalu, ketika aku bertemu dan kemudian berpisah..
Sebuah pertemuan sekaligus sebuah perpisahan.

Kuambil foto itu dan kulihat tulisan dibelakang foto itu.

Kutai Kartanegara, 16 September 2004

“Aku paling benci dengan perpisahan,
dan kita disini dipertemukan dan dipisahkan
Tapi aku yakin dan percaya kita pasti akan bertemu.
Mungkin melalui foto ini kita akan selalu mengingat setiap detik kenangan yang kita lalui.
karena kenangan akan melahirkan kita berulang-ulang”

-Rahmanda Kurniawan-

Pertemuan yang sungguh singkat, namun berkesan.
Teringat aku pada lima tahun yang lalu.
Ketika aku pertama kali menginjakkan kakiku di Tanah Borneo.
Saat itu aku diajak Omku untuk berlibur ke Samarinda.
Karena Omku saat itu mendapatkan tugas disana.
Di kantornyalah aku bertemu dan berkenalan dengan Rahmanda, namun aku senang memanggil namanya dengan panggilan Mas Aar.

Rahmanda, adalah seorang sarjana lulusan dari Institut terkemuka di Bandung.
Aku tahu track recordnya dari Om ku, karena dia termasuk ke dalam bagian Project yang dikerjakan oleh Omku.

“Dira, kamu sudah kenalan dengan Wawan?”, tanya Omku suatu hari padaku.
“Wawan? siapa Om?” jawabku.
“Itu lho, yang di bagian Plan Project, Rahmanda Kurniawan”, jawab Omku.
“Oooh, Mas Aar tho?, kirain siapa Om. Sudah Om. Pinter yah orangnya..”, sahutku

“Dia cerdas dan cumlaude lho Dira, makanya Om ajak dia buat masuk ke tim Project ini”, balas Omku.
“Kamu harus banyak belajar dari dia, buat tambahan ilmu kamu, kalau kamu masuk kuliah nanti” sambungnya.

“Iya, Om..” balasku.

Ternyata, liburanku kali ini bukan hanya sekedar liburan.
Tapi aku ikut dilibatkan pula dalam proyek yang dikerjakan oleh Omku.
Aku mendapat bagian di dalam kegiatan Community Development (Pemberdayaan Masyarakat).
Dan tentunya aku akan sering berinteraksi dengan Rahmanda, karena tugas Rahmanda adalah untuk membuat rencana proyek dari semua aspek.

Hingga pada suatu hari.
“Assalamu’alaikum Dira. Selamat Pagi. Bagaimana jadi ikut ke L3?” sapa Rahmanda di pagi itu.
L3 adalah nama sebuah desa di Kecamatan Embalut, sebutan itu sudah ada sejak adanya program transmigrasi disana.
“Wa’alaikumussalam Mas Aar, insyaAlloh. saya ikut, karena kemarin saya ditelpon kepala desanya untuk hadir dipertemuan itu. Mas Aar ikut juga kah?” balasku.
“iya, tentu saja Dira. Mas Edy shubuh tadi menelponku untuk menemanimu”. ujar Rahmanda.

Edy adalah nama Omku adik bungsu dari ibuku.
“Jadi jam berapa kita berangkat?” tanyanya padaku.
“Jam 8 saja Mas, pertemuannya kan jam 9 di Balai Desa” balasku.
“Ya sudah, saya pulang dulu ke mess, sekalian ambil mobilnya” balasnya.

Sudah hampir tiga minggu aku bersamanya.
Dari mulai pagi hingga larut malam.
Karena proyek yang Om ku kerjakan harus selesai dalam waktu 2 bulan.
Sehingga semua pekerjaan harus dikerjakan dengan cepat dan tepat.
Aku mulai hafal dengan sifat dan karakter Rahmanda.
Aku mulai hafal dengan suaranya, hafal dengan gaya bicaranya yang santun.
Terlihat sekali bahwa Rahmanda adalah sosok yang cerdas dan berkepribadian yang baik.
Aku juga mulai hafal dengan apa yang dia sukai dan yang tidak dia sukai.
Dari mulai warna, makanan., lagu hingga buku.
Rahmanda, berbeda empat tahun denganku..
Aku baru masuk kuliah, dan dia sudah lulus kuliah.

Satu minggu menjelang kepulanganku ke Jakarta.
“Dira, kapan Dira pulang ke Jakarta?
“Sabtu depan Mas, insyaAlloh”
“Cepat ya, kenapa tidak sampai selesai proyek saja Dira”
“Aku kan masuk kuliah Mas, mau ospek pula.. hehehe”
“Oh iyaya.. “ sahutnya singkat.

Kamis, 16 September 2004. Pukul 17.35 WITA.

Tok..tok..
Aku mengetuk pintu mess Rahmanda.
“Assalamu’alaikum” sapaku
“Wa’alaikumsalam, ada apa Dira?” balasnya
“Mas Aar, Dira pamit dulu yah. Dira mau pulang ke Jakarta” ujarku.

“Lho, kan pulangnya Sabtu besok?” tanyanya.
“Iya Mas, Dira mau ke Balikpapan malam ini barengan sama Om Edy.
Dira nginep di guest house disana.” jawabku
“Hmm.. hati-hati ya Dira” pesannya padaku.
“Terimakasih Mas” sahutku.
“eh, tunggu dulu sebentar” sergahnya.
“Ini buat Dira” ujarnya sambil menyerahkan amplop cokelat.
“Apa ini Mas?, tanyaku.
“Foto kita waktu di L3, kemarin. Simpan ya, buat kenang-kenangan”
“Makasih Mas”

meninggalkan jejak kenangan di gerbang dayaku..
Ketika selangkah ku pergi..
Satu pesan yg kuterima..
“aku paling benci perpisahan”..
Kemudian kulihat sosok bayangan menunduk diantara remang cahaya kutai kartanegara..

Aku melihat Rahmanda tertunduk di bawah bayang senja.
Entah apa yang ia pikirkan saat itu..
Samakah dengan apa yang aku pikirkan tentang perpisahan ini.
Samakah dengan apa yang kurasakan saat ini.

Satu bulan kemudian, proyek telah selesai.
Dan Om Edy sudah berpindah tugas lagi.
Rahmanda pun aku dengar pindah ke Sulawesi.

Aah, semakin jauh saja.

Hingga lima tahun aku sudah tidak pernah dengar lagi kabarnya.
Aku sibuk dengan perkuliahanku, dengan praktikum yang menggila.
Dan dengan begitu banyak kegiatan di kampusku.
Mungkin itu salah satu caraku untuk melupakan Rahmanda.

16 September 2009. Pukul 02.00 WIB

Suara handphoneku berbunyi. Membuyarkan konsentrasi bacaanku.
Sebuah balasan dari pesan singkat yang aku kirim tadi..
“Perempuan yang akan aku nikahi adalah ARDIRA PRAMESWARI,
Dan aku akan menikahinya pada tanggal 20 Desember 2012.
Tepat di hari ulang tahunnya”.

Sayup-sayup terdengar suara yang membuatku kembali bersyukur.
Tuhan, engkau telah merencanakan segalaNya untukku.
Dan aku tahu itu pasti yang terbaik bagiku.

————-

“..lima tahun… bukan waktu yang singkat…”
dan suara itu masih jelas terdengar..
bahkan hingga malam ini..
dan setia itu mungkin sebuah cerita…
masih ada perjalanan yang harus aku tempuh..

-Biru, 19 September 2009-
Bangkiray Canopy Bridge – Samarinda

senja

Posted in Uncategorized on March 21, 2011 by pendaranhati

Senja…

Aah.. entah mengapa aku menyukai wajah langitku saat senja..
Pernah ku katakan pada mereka mengapa harus langit.
Yaah..karena hanya langit yang selalu ada kemanapun aku pergi.
Melangkah dan terdiam..
Tidak seperti awan, angin dan hujan.. mereka pergi dan datang sesukanya,,
Karena langit tidak pernah hilang,,berpindah tempat ataupun hanya datang dan pergi untukku
Pada senja, aku ceritakan tentang kisahku..
Tentang kisah laut dan langit..
Dan kini mengenai dirimu.. dirimu Senja…

Aku mendapatimu ketika langit meruah jingga..
Ketika angin kemarau membisikkan kalimat rindu langit pada laut..
Aku menemukanmu ketika awan cirrus menguaskan lukisan rindu..
Rindu laut pada langit..

Senja aku menemuimu ketika Matahari berpendar memanggil Bulan.
Aaah senja.. wajah langitku merona indah karenamu..

Aku tak sengaja menemukan senja..
Ketika aku bermain dengan sepi..
Aku melihatnya ditepian kegelisahan..
Senja yang kulihat senja yang sederhana..

Ketika senja hadir,
Tak ada satupun yang tidak menghiraukannya..
bahkan gunung yang gagah pun tampak terpukau melihat wajahnya..
rimba raya berdendang diiringi desir angin..

bahkan ketika dia harus berbagi warnanya..
warna jingga yang senja miliki, harus terbagi dengan pelangi..
dan bila pelangi telah muncul setelah huja, maka pujian itu tertuju pada pelangi..

lalu tiba-tiba warna jingga pada senja, kini ada pada pelangi..
dan segenap pandanganpun tertuju pada pelangi..

lalu senja mencari warna yang lain yang sanggup menggantikan jingga pada wajahnya..
senja bertanya pada laut.. apakah laut mempunyai warna untuknya..
laut menjawab.. “warnaku adalah warna langit.. coba mintalah padanya..”

senja pun mendatangi langit, dan meminta warna untuk menghias wajahnya yang hampir memudar..
Langit pun berkata “Senja, ini takdir diriku hanya untuk laut. Jika kau mau, coba tanyakan pada angin, dia sering mengunjungi berbagai tempat. Mungkin dia tahu dimana kau bisa menemukan warna untuk wajahmu”

Senja gelisah..
Dan aku merasakan gelisah itu pada beberapa senja terakhir..
“Wahai Senja, aku dengar dari Langit dan Laut, kau mencariku?”

“Angin, tidakkah kau lihat wajahku.. aku kehilangan warna jinggaku, jika pelangi datang”
ujar Senja pada Angin.

“hmmm.. Senja, kemarin aku dari Utara disana aku bertemu dengan Pinus dan Savana..
Apakah kau berkenan menggunakan warnanya..?” Angin berkata.

“Tapi Angin, aku ingin jingga yang menghias wajahku.. bukan yang lain” sahut Senja.

Senja hampir tenggelam bersama Matahari yang pulang ke peraduannya.
dan aku masih merasakan gelisah itu senja..

Kupejamkan mata mencoba menghadirkan Senja.
Langit kian pekat, tabuhan sunyi mulai berkumandang pertanda kehadiran Sang Dewi bulan.

Kulihat satu bintang berkerlip genit padaku..
Tak kupedulikan dia, karena aku sedang nyaman dengan langitku yang hening.

dan sejurus kemudian, bintang menyapaku..
“Apa yang kau lihat dari langit selain aku?, aku lebih menarik. Langit yang pekat takkan indah tanpa hadirku”.

“hhhsshh..” desahku.
Aku menjawab pelan. “ada SENJA. Langitku indah ketika senja. Dan aku menyukai itu,, kini aku menunggu langit ketika senja menghiasinya.”
Bintangpun pergi, menghilang…
Marah, mungkin.

gamang

Posted in Uncategorized on March 21, 2011 by pendaranhati

“aku mengagumimu” satu pesan singkat aku terima pagi ini.
“Aku nggak bisa menahan gejolak tatkala kita bersitatap“
, pesan kedua pun kuterima.

Aku tak pernah menyesal dengan pertemuan itu, karena aku tahu itu bukan kebetulan, pertemuan itu adalah bagian dari skenarioNYA.

Akupun menerima dengan ikhlas perlakuannya padaku.
Yang aku takutkan adalah aku tak bisa menjaga hatiku.

————–
entah sebenarnya apa yang dia pikirkan tentang aku.. dan apa yang aku pikirkan tentang dia.
cukuplah hanya sampai disini..

aku tak mau lebih.. aku terlalu takut..

————–

Menikah :
DEANDRA SETYONINGTYAS dengan ARYA WEDHATAMA

undangan bersampul biru dengan salur gading keemasan.
“Mas, undangannya sudah selesai” di balik telepon Deandra berbicara.
“Bagus ngga dek?” jawaban dari seberang telepon.

“sesuai dengan pesanan kita kok Mas, sampul biru salur gading ke emasan, gambarnya bunga teratai, tulisannya kawi”
balasan Deandra.

“Ok, lusa Mas ke rumah, Mas masih di luar kota”
Pembicaraan terhenti…

Deandra tertegun sejenak sambil memegang sebuah undangan yang tercantum namanya.
Senja itu Deandra duduk di kursi dekat jendela kamarnya, sambil memandang ke luar dan memperhatikan satu persatu daun beringin yang berjatuhan tertiup angin.

“Hhhhhhh…bagaimana aku ini” desah Deandra.
Dalam hati Deandra membuat percakapan sendiri.

Pernikahanku tinggal dua minggu lagi..sanggupkan aku? Sejauh apa keyakinan aku?

Dan bagaimana jika semua tidak berjalan dengan yang direncanakan?

Bagaimana jika keputusan ini hanya karena sebuah kompromi.

——-

aku masih membuka pesan singkat yang kuterima..
bukan 1 atau 2 kali Panji mengirimiku pesan seperti itu…

dan entah mengapa aku begitu merasa bahagia setelah membaca semua pesannya.

Ahhhh…Andai Arya seperti Panji.. batinku.

Andai Panji itu adalah Arya Wedhatama yang 2 minggu lagi aku akan menikah dengannya..

——–

*Perempuan dalam dilema perasaan, ketika hasrat yang bersinggungan dengan naluri*

“Perkenalkan ini istri saya”

Posted in Uncategorized on March 21, 2011 by pendaranhati

“Perkenalkan ini istri saya”, terdengar seorang Pria dengan perawakan tinggi dan cukup kekar mengenalkan seorang perempuan cantik berkerudung merah muda kepada perempuan berambut sebahu.
Tampak sekali dengan jelas, perempuan berambut sebahu itu sangat terkejut.
tapi dia berusaha menyembunyikan keterkejutan itu dibalik senyum simpulnya yang getir.

“Vidya”, perempuan berambut sebahu itu mengenalkan dirinya pada perempuan berkerudung merah muda.
“Saya Khairina, tapi panggil saja Irin”, sambut perempuan berkerudung itu dengan ramah.

“Kami baru menikah 3 minggu yang lalu Vid, dan maaf kami tidak sempat mengundangmu di acara resepsi kami, karena saya tidak tahu alamatmu sekarang”, ujar Pria tersebut.

“Selamat ya, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah”, ucap Vidya.

(Pertemuan singkat di awal bulan Juni, diantara gemericik hujan yang singgah saat di Kota Bandung)

Jalanan Cipaganti begitu lengang, padahal malam ini adalah malam minggu.
“Ah, sekian kalinya aku lewati malam minggu dengan kesendirian”, gumam Vidya.
Diiringi lagu “animal instinct”- Cranberries, Vidya melaju dengan kendaraanya sambil menahan bulir airmata yang ia tahan untuk tak terjatuh di pipinya.

Pulang ke kota kelahirannya, membuat Vidya kembali terkenang masa lalu.
Ya sembilan tahun yang lalu, dimana ia berkenalan dengan Sunaf, Pria yang ia temui tadi sore di BIP.
Sunaf Farrukhzad, pria sederhana yang berhasil meluluhkan hatinya.
Namun kini, Perempuan berkerudung yang bernama Khairina itulah yang berhasil memenangkan hati Sunaf.
Sembilan tahun yang lalu ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.
Vidya masih jelas mengingat pertama kali mereka saling berkenalan.
Ketika ada acara pengenalan kampus.
“Hai, kamu yang namanya Vidya Amrita Vimala?
Iya, tapi panggil saya Vidya atau Vivid saja”
“kenalkan saya Sunaf Farrukhzad, saya ketua kelompok tim delapan”, sapanya ramah.
“Oh, begitu ya. Ini ada formulir yang mesti kamu isi, nanti dikumpulkan ke saya”
“Ok, terimakasih ya Sunaf”

Awal perkenalan itu yang akhirnya membuat mereka semakin dekat.
Hingga pada suatu saat Sunaf terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa dan Vidya menjadi Sekretaris Senat.
Sunaf dan Vidya menjadi pasangan yang ideal di kampusnya.
Bila orang yang pertama kali melihat mereka, akan mengira bahwa Sunaf dan Vidya mempunyai hubungan khusus.
Dan hal itulah yang membuat Vidya menjadi rikuh dihadapan teman dan dosen.
Bagaimana tidak, Sunaf begitu perhatian kepada Vidya.
Bukan sekedar sharing tugas kuliah, tapi Sunaf kerap datang ke rumah Vidya.

Vidya, berusaha untuk menepis perasaan yang tiba-tiba tumbuh seiring kedekatan mereka.
Tetapi semakin ia menepisnya, semakin kuat pula perasaan itu.
Sedikit demi sedikit Vidya mulai mengurangi intensitas pertemuan dengan Sunaf.
Dia lakukan untuk menghindari perkataan yang tidak ingin ia dengar.

Ternyata semakin Vidya menjauhi Sunaf, Sunaf semakin mendekati Vidya.
Vidya tak berani menanyakan apa maksud dari perlakuan Sunaf kepadanya.
Terlalu sungkan baginya untuk menanyakan hal yang mungkin akan membuatnya malu karena berpikiran terlalu jauh.

Sunaf, pria sederhana yang berhasil memikat hati bukan hanya Vidya tapi keluarga Vidya pun terpikat oleh kesantunannya.
Dan akhirnya Vidya membiarkan perhatian Sunaf kepadanya yang semakin besar.
Membiarkan semua ucapan yang ia dengar bahwa Sunaf adalah kekasihnya.
Toh, Sunaf tak sedikitpun menyangkalnya.

Dalam jangka waktu 4 tahun, mereka berhasil menempuh pendidikannya dengan nilai yang memuaskan.
Tiba saatnya mereka berpisah.
Sunaf mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan terkemuka di Negara Malaysia.
Sedangkan Vidya bekerja di sebuah BUMN dan di tempatkan di Bagian Timur Indonesia.

“Vid, saling mendo’akan ya.. berharap yang terbaik untuk kita. InsyaAlloh, semoga kita bisa saling menjalankan amanah kita masing-masing. Keep in touch ya”, pesan singkat terakhir yang Vidya terima melalui ponselnya sehari sebelum Sunaf pergi.

-Sebuah perpisahan, tanpa jeda-

Sibuk dengan pekerjaan masing-masing, komunikasi Sunaf dan Vidya terputus sejak empat tahun yang lalu.
Namun Vidya masih menyimpan asa dan rasa yang sama seperti sembilan tahun yang lalu.

Dan pada sore ini, mereka dipertemukan kembali.
Pertemuan di sebuah coffee shop jalan Merdeka, ketika mereka saling duduk berseberangan.
“Vidya”
“Sunaf”
“Assalamu’alaikum, apakabar Vid?, lama ya kita ga ketemu?”
“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, baik juga? kamu dengan siapa Vid?”
“Sendirian, seperti biasa. Ini hari terakhir cutiku Naf.Kamu sendiri dengan siapa?”

Sunaf tak lantas langsung menjawab, tapi ia melayangkan pandangannya kepada sosok perempuan berkerudung yang masuk ke dalam Coffee Shop seraya menghampirinya.
kemudian…
“Perkenalkan ini istri saya”

*terinspirasi sebuah percakapan di ujung tangga eskalator,
@J-CO, BIP 05062010, pukul 20:00 WIB

..fana..

Posted in Uncategorized on March 14, 2011 by pendaranhati

Ketahuilah, bahwa segala yang kasat mata adalah fana,
Tapi dunia makna tak akan pernah sirna.
Sampai kapankah engkau akan terpikat oleh bentuk bejana?
Tinggalkanlah ia:
Pergi, airlah yang harus engkau cari!
Hanya melihat bentuk, makna tak akan engkau temukan.
Jika engkau seorang yang bijak, ambillah mutiara dari dalam kerang.

Rumi…

“rindu biru rindu luka”

Posted in suntingan hati on August 10, 2009 by pendaranhati

luka ini ku buat sendiri..
luka yang kuciptakan dengan kesadaranku..

aku tahu ini luka..
tapi aku begitu menikmati luka..

aku biru yang bermain dengan luka..
luka yang aku bangun sendiri..
luka yang mungkin aku sendiri tak ingin menyembuhkanya..

kini aku rindu… luka..
luka yang telah ku rangkai sendiri
luka yang telah kususun di atas air mata kerinduan

lukaku..luka biru
lukaku..luka rindu

dari setiap penantian untuk bertemu..
terangkai luka pilu dalam qolbu..

sebuah peristiwa membawaku mangakhiri tawa
dan aku luka..

ingin ku akhiri semua ini,,
tapi aku tak cukup kuasa meninggalkan luka..
lukakun terendap dalam lara rindu..

ketika jarak dan waktu semakin menambah luka..

lukaku.. luka rindu biru..

entahlah..
aku mungkin hanya sebatas pengaggum yang merindu..

aku ingin berlari dan bersembunyi..
tapi bagaimana aku dapat berlari..??
jika kakiku terluka atas segala rindu mendera..
tapi bagaimana aku dapat bersembunyi..??
jika aku tak pernah sendiri..
bayanganmu selalu mengikutiku..

luka..
aku luka..
dan aku rindu..luka..

wahai engkau cahaya pada penglihatanku..
pandanglah aku yang luka..
pandanglah walau sekejap..

sambut tanganku..
sambut tanganku.. rindu..

apakah aku yang menunggumu untuk bertemu denganku..??
apakah kau yang menungguku untuk bertemu denganmu??
bagaimana jika kau hentikan saja waktu itu..??

hingga tak akan ada alasan aku dan kamu untuk saling menunggu..

lukaku luka rindu..
rinduku rindu luka..

dan aku merindukanmu luka..
lukaku untuk merindukanmu..

*140609*

Jangan Pergi Dulu…

Posted in suntingan hati on June 19, 2009 by pendaranhati

kemarin kau kisahkan aku
tentang masa lalu dan kenanganmu
hingga kau buat jutaan kata puja dan puji untuknya
aku hanya diam..

kemarin kau sampaikan padaku
tentang kerinduanmu atas kematianmu
hingga kau terkubur bersama luka dan masalalumu
aku hanya diam..

kemarin kau utarakan padaku
tentang asamu mengeja setiap bait kehidupan
hingga kau terluka berdarah dan berairmata
aku hanya diam..

kemudian..
kau tanyakan padaku
mengapa aku hanya diam??
apa yang harus kukatakan padamu
jika semua telah kau wakili

dan..
kemarin kau bercerita
tentang bunga keabadian
tentang awan dan pendakian

kemarin kau katakan
ketika kau di puncak gunung
awan akan ada di bawah kakimu

lalu..
ku ceritakan padamu
tentang kisah laut dan langit
tentang awan,
tentang teratai bunga kehidupan

kemudian..
kau bilang
kau akan pergi
untuk pendakianmu yang kesekian

sekarang aku katakan padamu

jangan pergi dulu..

sudikah kau menungguku sejenak
ada sesuatu yang ingin kutitipkan padamu

aku ingin menitipkan rinduku pada langit biruku
rinduku atas nama do’a

jika bukan karena rindu…
mungkin hatiku tak akan terdiam
aku diam karena rindu
rinduku yang meruah jingga
di batas senja..

kepada siapa kutitipkan rindu..

Posted in suntingan hati on June 19, 2009 by pendaranhati

aku sibuk..
aku sibuk menghitung dan menyusun rindu..

semakin hari semakin banyak
sepertinya almari hatiku sudah tak cukup menyimpannya
aku harus menatanya kembali
agar rindu itu cukup menempati di alamri hatiku

namun bagaimana dapat aku menatanya???
sementara kuncinya kamu pegang
dan kamu semakin menjauh dariku..

bagaimana dapat aku mengatur rinduku dalam almari hatiku?
bagaimana dapat aku menyusunnya kembali
hingga rindu – rindu ini kucukupkan

hey.. kembalikan kunci itu padaku
atau jangan-jangan kamu telah membuangnya?

hhhh..
jika begitu..
lebih baik aku amnesia
hingga aku lupa
apa itu rindu dan seperti apa rindu itu..

hey.. dimana kamu berada kini?
bersembunyikah kamu dibalik rindu?
keluarlah dari situ
kamu tak perlu sembunyi

karena rindu itu kamu..

sebuah dialog

Posted in suntingan hati with tags , , , , , on May 13, 2009 by pendaranhati

ada yang bertanya padaku
“Biru, mengapa kau selalu tertunduk?”

aku menjawabnya lirih dan hampir tak bersuara
“aku hanya bisa menunduk
aku malu menatap wajah langit biru”

kemudian dia bertanya kembali padaku
“Biru, aku ingin cinta, aku akan mencarinya
tapi mengapa Tuhan begitu padaku”

aku jawab,
“karena kaupun begitu padaNYA”

“tapi aku tidak begitu dekat dengan DIA, Biru”, ucapnya

“mendekatlah, mau DIA adalah maumu
parasangka DIA adalah prasangkamu”

“dekatilah DIA, seperti kau berlari mengejar cintamu
lalu rayulah DIA dengan do’a dan zikrullah”

kemudian dia bertanya kembali padaku
“apa cukup itu saja Biru?”

kemudian aku katakan padanya,
meskipun bibirku sudah tak sanggup berkata,

“do’a adalah pengharapan
zikrullah adalah keberserahan dan kepasrahan

dalam pengharapan
dalam pengharapan ada ikhtiar
dalam ikhtiar ada niat
dalam niat ada tujuan
tujuan yang akan membawamu bertemu dengan cinta

dan perjalanan bertemu dengan cinta
adalah pendewasaan hati

ketika perjalanan yang dilalui tidak seperti yang diinginkan
maka kembalikan pada keberserahan dan kepasrahan
lelah memang
tapi langkah itu adalah amanah
cinta itu adalah DIA
DIA yang mewujudkan cinta
DIA telah mempersiapkan cintamu yang teristimewa
DIA hanya menunggu hatimu”

tidak mudah memang
karena akupun belum tentu bisa
aku harus banyak belajar

*dialog hati, di penghujung hari ke tiga belas, bulan ke lima,2009*

sedetik waktumu aku menjadi pameomu

Posted in suntingan hati with tags , on May 9, 2009 by pendaranhati

*Parijs Van Java, menjelang senja diiringi langit yang berairmata, hari ke sembilan di bulan ke lima, 2009*

kau dan dia
dengan berjuta harapan, kenangan dan masa lalumu

namun kau tiba-tiba menyapa hatiku
kau mengundang namaku

kau bingkiskan aku berjuta untaian kata indah
yang kau bingkai dengan kerinduan

aku tahu itu semu
dan aku tahu
itu bukan untukku

kamu yang kau maksud adalah dia
dia yang tak pernah sanggup kau lupakan
karena memang kau tak ingin melupakannya
dan aku tahu itu

aku takkan menyalahkanmu
karena aku sangat suka dengan itu
sungguh aku sangat suka

suka
ketika kau katakan rindu
suka
ketika kau katakan cinta

aku suka semua itu
sungguh aku sangat suka

meskipun aku sangat..sangat tahu
itu bukan untukku
kamu yang kau maksud adalah dia

dia yang selalu mengiringi hari-harimu dengan
jejak kenanganmu
dia yang selalu mendampingimu dengan senyumannya
dia yang selalu hadir bersama mimpi dalam lelap tidurmu
dia.. ya hanya dia yang ada padamu

akupun merindukanmu.. sebenarnya
hingga berulang kali
aku membaca semua tulisanmu padaku
meskipun aku berairmata
aku pun tersenyum
karena aku tahu
itu bukan untukku…
bukan untukku

akupun merindukanmu.. sebenarnya
hatiku telah kau sunting dengan kata-katamu
tapi sudahlah..
aku takkan pernah sanggup menjadi dia
seperti ini pun sudah cukup membuatku bahagia
layaknya kupu – kupu menari di atas langit biru

Sungguh, aku tak cukup kuasa membuat hatiku cemburu..
cukup mataku saja yang kau buai dengan untaian kata yang membuatku bahagia.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.