“Perkenalkan ini istri saya”

“Perkenalkan ini istri saya”, terdengar seorang Pria dengan perawakan tinggi dan cukup kekar mengenalkan seorang perempuan cantik berkerudung merah muda kepada perempuan berambut sebahu.
Tampak sekali dengan jelas, perempuan berambut sebahu itu sangat terkejut.
tapi dia berusaha menyembunyikan keterkejutan itu dibalik senyum simpulnya yang getir.

“Vidya”, perempuan berambut sebahu itu mengenalkan dirinya pada perempuan berkerudung merah muda.
“Saya Khairina, tapi panggil saja Irin”, sambut perempuan berkerudung itu dengan ramah.

“Kami baru menikah 3 minggu yang lalu Vid, dan maaf kami tidak sempat mengundangmu di acara resepsi kami, karena saya tidak tahu alamatmu sekarang”, ujar Pria tersebut.

“Selamat ya, semoga jadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah”, ucap Vidya.

(Pertemuan singkat di awal bulan Juni, diantara gemericik hujan yang singgah saat di Kota Bandung)

Jalanan Cipaganti begitu lengang, padahal malam ini adalah malam minggu.
“Ah, sekian kalinya aku lewati malam minggu dengan kesendirian”, gumam Vidya.
Diiringi lagu “animal instinct”- Cranberries, Vidya melaju dengan kendaraanya sambil menahan bulir airmata yang ia tahan untuk tak terjatuh di pipinya.

Pulang ke kota kelahirannya, membuat Vidya kembali terkenang masa lalu.
Ya sembilan tahun yang lalu, dimana ia berkenalan dengan Sunaf, Pria yang ia temui tadi sore di BIP.
Sunaf Farrukhzad, pria sederhana yang berhasil meluluhkan hatinya.
Namun kini, Perempuan berkerudung yang bernama Khairina itulah yang berhasil memenangkan hati Sunaf.
Sembilan tahun yang lalu ketika sama-sama menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi negeri di Bandung.
Vidya masih jelas mengingat pertama kali mereka saling berkenalan.
Ketika ada acara pengenalan kampus.
“Hai, kamu yang namanya Vidya Amrita Vimala?
Iya, tapi panggil saya Vidya atau Vivid saja”
“kenalkan saya Sunaf Farrukhzad, saya ketua kelompok tim delapan”, sapanya ramah.
“Oh, begitu ya. Ini ada formulir yang mesti kamu isi, nanti dikumpulkan ke saya”
“Ok, terimakasih ya Sunaf”

Awal perkenalan itu yang akhirnya membuat mereka semakin dekat.
Hingga pada suatu saat Sunaf terpilih menjadi Ketua Senat Mahasiswa dan Vidya menjadi Sekretaris Senat.
Sunaf dan Vidya menjadi pasangan yang ideal di kampusnya.
Bila orang yang pertama kali melihat mereka, akan mengira bahwa Sunaf dan Vidya mempunyai hubungan khusus.
Dan hal itulah yang membuat Vidya menjadi rikuh dihadapan teman dan dosen.
Bagaimana tidak, Sunaf begitu perhatian kepada Vidya.
Bukan sekedar sharing tugas kuliah, tapi Sunaf kerap datang ke rumah Vidya.

Vidya, berusaha untuk menepis perasaan yang tiba-tiba tumbuh seiring kedekatan mereka.
Tetapi semakin ia menepisnya, semakin kuat pula perasaan itu.
Sedikit demi sedikit Vidya mulai mengurangi intensitas pertemuan dengan Sunaf.
Dia lakukan untuk menghindari perkataan yang tidak ingin ia dengar.

Ternyata semakin Vidya menjauhi Sunaf, Sunaf semakin mendekati Vidya.
Vidya tak berani menanyakan apa maksud dari perlakuan Sunaf kepadanya.
Terlalu sungkan baginya untuk menanyakan hal yang mungkin akan membuatnya malu karena berpikiran terlalu jauh.

Sunaf, pria sederhana yang berhasil memikat hati bukan hanya Vidya tapi keluarga Vidya pun terpikat oleh kesantunannya.
Dan akhirnya Vidya membiarkan perhatian Sunaf kepadanya yang semakin besar.
Membiarkan semua ucapan yang ia dengar bahwa Sunaf adalah kekasihnya.
Toh, Sunaf tak sedikitpun menyangkalnya.

Dalam jangka waktu 4 tahun, mereka berhasil menempuh pendidikannya dengan nilai yang memuaskan.
Tiba saatnya mereka berpisah.
Sunaf mendapat pekerjaan di sebuah perusahaan terkemuka di Negara Malaysia.
Sedangkan Vidya bekerja di sebuah BUMN dan di tempatkan di Bagian Timur Indonesia.

“Vid, saling mendo’akan ya.. berharap yang terbaik untuk kita. InsyaAlloh, semoga kita bisa saling menjalankan amanah kita masing-masing. Keep in touch ya”, pesan singkat terakhir yang Vidya terima melalui ponselnya sehari sebelum Sunaf pergi.

-Sebuah perpisahan, tanpa jeda-

Sibuk dengan pekerjaan masing-masing, komunikasi Sunaf dan Vidya terputus sejak empat tahun yang lalu.
Namun Vidya masih menyimpan asa dan rasa yang sama seperti sembilan tahun yang lalu.

Dan pada sore ini, mereka dipertemukan kembali.
Pertemuan di sebuah coffee shop jalan Merdeka, ketika mereka saling duduk berseberangan.
“Vidya”
“Sunaf”
“Assalamu’alaikum, apakabar Vid?, lama ya kita ga ketemu?”
“Wa’alaikumsalam, alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana?”
“Alhamdulillah, baik juga? kamu dengan siapa Vid?”
“Sendirian, seperti biasa. Ini hari terakhir cutiku Naf.Kamu sendiri dengan siapa?”

Sunaf tak lantas langsung menjawab, tapi ia melayangkan pandangannya kepada sosok perempuan berkerudung yang masuk ke dalam Coffee Shop seraya menghampirinya.
kemudian…
“Perkenalkan ini istri saya”

*terinspirasi sebuah percakapan di ujung tangga eskalator,
@J-CO, BIP 05062010, pukul 20:00 WIB

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.