senja
Aah.. entah mengapa aku menyukai wajah langitku saat senja..
Pernah ku katakan pada mereka mengapa harus langit.
Yaah..karena hanya langit yang selalu ada kemanapun aku pergi.
Melangkah dan terdiam..
Tidak seperti awan, angin dan hujan.. mereka pergi dan datang sesukanya,,
Karena langit tidak pernah hilang,,berpindah tempat ataupun hanya datang dan pergi untukku
Pada senja, aku ceritakan tentang kisahku..
Tentang kisah laut dan langit..
Dan kini mengenai dirimu.. dirimu Senja…
Aku mendapatimu ketika langit meruah jingga..
Ketika angin kemarau membisikkan kalimat rindu langit pada laut..
Aku menemukanmu ketika awan cirrus menguaskan lukisan rindu..
Rindu laut pada langit..
Senja aku menemuimu ketika Matahari berpendar memanggil Bulan.
Aaah senja.. wajah langitku merona indah karenamu..
Aku tak sengaja menemukan senja..
Ketika aku bermain dengan sepi..
Aku melihatnya ditepian kegelisahan..
Senja yang kulihat senja yang sederhana..
Ketika senja hadir,
Tak ada satupun yang tidak menghiraukannya..
bahkan gunung yang gagah pun tampak terpukau melihat wajahnya..
rimba raya berdendang diiringi desir angin..
bahkan ketika dia harus berbagi warnanya..
warna jingga yang senja miliki, harus terbagi dengan pelangi..
dan bila pelangi telah muncul setelah huja, maka pujian itu tertuju pada pelangi..
lalu tiba-tiba warna jingga pada senja, kini ada pada pelangi..
dan segenap pandanganpun tertuju pada pelangi..
lalu senja mencari warna yang lain yang sanggup menggantikan jingga pada wajahnya..
senja bertanya pada laut.. apakah laut mempunyai warna untuknya..
laut menjawab.. “warnaku adalah warna langit.. coba mintalah padanya..”
senja pun mendatangi langit, dan meminta warna untuk menghias wajahnya yang hampir memudar..
Langit pun berkata “Senja, ini takdir diriku hanya untuk laut. Jika kau mau, coba tanyakan pada angin, dia sering mengunjungi berbagai tempat. Mungkin dia tahu dimana kau bisa menemukan warna untuk wajahmu”
Senja gelisah..
Dan aku merasakan gelisah itu pada beberapa senja terakhir..
“Wahai Senja, aku dengar dari Langit dan Laut, kau mencariku?”
“Angin, tidakkah kau lihat wajahku.. aku kehilangan warna jinggaku, jika pelangi datang”
ujar Senja pada Angin.
“hmmm.. Senja, kemarin aku dari Utara disana aku bertemu dengan Pinus dan Savana..
Apakah kau berkenan menggunakan warnanya..?” Angin berkata.
“Tapi Angin, aku ingin jingga yang menghias wajahku.. bukan yang lain” sahut Senja.
Senja hampir tenggelam bersama Matahari yang pulang ke peraduannya.
dan aku masih merasakan gelisah itu senja..
Kupejamkan mata mencoba menghadirkan Senja.
Langit kian pekat, tabuhan sunyi mulai berkumandang pertanda kehadiran Sang Dewi bulan.
Kulihat satu bintang berkerlip genit padaku..
Tak kupedulikan dia, karena aku sedang nyaman dengan langitku yang hening.
dan sejurus kemudian, bintang menyapaku..
“Apa yang kau lihat dari langit selain aku?, aku lebih menarik. Langit yang pekat takkan indah tanpa hadirku”.
“hhhsshh..” desahku.
Aku menjawab pelan. “ada SENJA. Langitku indah ketika senja. Dan aku menyukai itu,, kini aku menunggu langit ketika senja menghiasinya.”
Bintangpun pergi, menghilang…
Marah, mungkin.
